Agar Hidup Penuh Romantisme

Agar Hidup Penuh Romantisme

Sepuluh kebiasaan buruk ini membuat kehangatan bersama pasangan jadi lesu.

Sudah bukan rahasia bahwa setiap hubungan tak pernah terbebas dari konflik. Setelah sekian lama bersama, tak terhitung lagi, kan, berapa banyak negosiasi dan adaptasi yang dilakukan dengan Si Dia? Berkali-kali permasalahan dibahas tuntas, beribu kata maaf dilontarkan, namun ada saja hal-hal kecil yang membuat hubungan tak lagi hangat.

Jangan-jangan, konflik justru bersumber dari kebiasaan-kebiasaan kecil berikut yang secara tak sadar terakumulasi? Agar Hidup Penuh Romantisme.

Mencoba Mengubah

Meminta pasangan menaruh pakaian kotor di tempatnya memang wajar saja. Berupaya mengubahnya agar lebih teratur dan semangat bekerja? Itu kewajiban kita.

Namun, beda jika Anda mulai menuntut Si Dia berubah dalam hal yang tidak realistis. Sebut saja mengubah sikap pendiamnya yang membuat ia tak bisa ikut bercanda dengan rekan atau keluarga. Seperti ungkapan lama, tak ada yang terlahir sempurna.

Umbar Kemesraan

Coba ingat-ingat, apakah Anda tipe yang senang mengumbar kemesraan di depan umum? Saat berada di area publik, batasi interaksi sampai pelukan mesra saja.

Begitu pula di sosial media. Setiap kali Anda menyebut pasangan di sosial media disertai ungkapan betapa Anda mencintainya, jangan-jangan ia merasa terganggu atau bahkan malu. Apalagi jika dilakukan dengan intensitas tinggi, bisa-bisa teman lain di jejaring sosial pun ikut terganggu. Mau romantis boleh, tapi tetap harus tahu batas. Baca Juga 4 Arti Gerakan Tangan Saat Berbicara.

Bertengkar Sembarang

Hal ini juga berlaku pada pertengkaran. Bertengkar atau menegurnya secara keras di depan umum praktis membuat Si Dia merasa malu dan kesal, juga membuat canggung orang di sekitar. Bisa-bisa, orang menilai Anda kurang respek terhadap pasangan.

Hindari Masalah

Terima saja jika sesekali Anda dan Si Dia bertengkar. Pasalnya, ini juga penting untuk membuat Anda dan pasangan mengenal lebih dalam. Jangan sampai, saking tak ingin melewatkan masa bahagia dengannya, Anda menelan pendapat sendiri dan mengikuti apa saja yang dihendaki pasangan. Suatu hari saat Anda mulai merasa tak tahan, ledakan amarah justru akan lebih tak terarah.

Jadi, saat ada hal yang salah, utarakan. Pasangan tak selamanya dapat membaca pikiran Anda, bukan?

Memata-matai

Kunci keharmonisan adalah percaya. Untuk yang satu ini tentu kita setuju, bukan? Maka, hargai privasi pasangan dan jangan teruskan kebiasaan Anda membuka surat elektronik atau pesan singkat di telepon genggamnya. Selain dapat melukai hatinya, memelihara kecurigaan juga dapat membuat hati lelah akibat ketakutan yang berlebih.

Menghitung Skor

Benar bahwa hubungan adalah tentang memberi dan menerima. Namun, tak perlu melelahkan diri menghitung apa saja yang telah ia dan Anda berikan. Hal-hal seperti, “Aku sudah tiga kali membayar makan malam sementara kamu baru satu kali,” atau “Tuh, kan, kamu salah lagi. Sejak kemarin kamu sudah tiga kali melakukan kesalahan sementara aku baru satu kali,” sebaiknya tahan saja karena dapat memicu emosi dan berujung pada konflik.

Cemburu Buta

Saat pasangan menghubungi atau foto bersama rekan kerja wanitanya, tak wajar jika selalu khawatir akan kesetiaannya. Toh, di kantor pun tak semua rekan kerja sesama jenis, bukan? Beri keleluasaan padanya untuk bersosialisasi agar ia tak merasa dibatasi, atau lebih parah, menutupi hubungan pertemanan dengan rekan kerja lawan jenisnya di belakang Anda.

Membandingkan

Si Dia jarang sekali menjemput Anda sepulang kerja sementara teman satu divisi selalu dijemput oleh pasangannya? Lihat dulu, berapa jarak tempuh kantor ke rumah dibandingkan jarak tempuh Si Teman satu divisi itu? Tak semua bisa dibandingkan atau disamaratakan, lho. Lagi pula, Anda juga tak akan suka, kan, bila pasangan suka membandingkan Anda dengan perempuan lain?

Selalu Bersama

Pergi kerja, makan siang, pulang kerja, hingga aktivitas akhir pekan semua dilakukan bersama? Faktanya, setiap orang membutuhkan waktu untuk sendiri. Selalu bersama dengan pasangan di setiap kesempatan sebenarnya lambat laun akan memicu konflik karena diam-diam ada saatnya Anda atau pasangan membutuhkan waktu untuk sendiri. Bukan berarti bosan, namun memang pada prinsipnya semua orang akan membutuhkan waktu berkualitas untuk dirinya sendiri.

Minim Ungkapan

Mungkin sempat terpikir bahwa Anda tak perlu lagi mengucapkan kata-kata sayang pada pasangan karena dia sudah pasti mengetahuinya. “Toh, sudah terbukti dengan hubungan pernikahan kami yang selalu mulus bertahun-tahun ini. Apalagi sejak kelahiran Si Kecil,” begitu mungkin pikir Anda. Padahal, mengutarakan perasaan pada pasangan tetap diperlukan dan selalu berhasil membuat hubungan lebih erat, tak peduli berapa lama hubungan Anda dengan pasangan. Fenicie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *